Sejarah  Sejarah desa Palbapang tidak lepas dari tokoh  Ki Ageng Mangir disaat perjalanan beliau menuju Mataram, dan kisah perjal...



Sejarah 

Sejarah desa Palbapang tidak lepas dari tokoh  Ki Ageng Mangir disaat perjalanan beliau menuju Mataram, dan kisah perjalanan ini yang menjadi awal mula dari beridirinya kota Bantul Cerita ini bermula dari perjalanan Ki Ageng mangir akan ke mataram dengan berjalan dari mangir ke timur (mungkin sekarang jalan srandakan). Nah sesampainya disuatu desa Ki Ageng Mangir berhenti sejenak karena tombak sakti baru klinthing seperti membisikan sesuatu yang intinya dia menyarankan untuk membatalkan perjalanannya. Dan apabila Ia akan terus melanjutkan, maka nyawanya sudah di Pal (dipastikan) akan melayang dan dari kejadian itu maka desa itu kemudian disebut Palbapang berasal dari kata pal atau ngepal. Ada kepercayaan unik di sebagian masyarakat Bantul sampai sekarang, misalnya untuk orang-orang di Bantul selatan jika mau berobat kerumah sakit atau mau mengantar manten maka dihimbau untuk tidak melewati perempatan Palbapang. Mereka yang mempercayai tradisi itu berpendapat bahwa jika melewati Palbapang maka akan mendapat kesialan atau apes.

Stasiun Palbapang



Stasiun Palbapang (PLP) adalah stasiun kereta api nonaktif yang berada di Desa Palbapang, Kecamatan Bantul, Kabupaten Bantul. Stasiun ini terletak di Daerah Operasi VI Yogyakarta.

Stasiun ini dibangun oleh perusahaan kereta api swasta Hindia Belanda, Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), mulai tahun 1895 dan selesai pada 1912-1919 sebagai pengembangan jalur kereta api lintas Yogyakarta-Sewugalur.[1] Uniknya dahulu jalur ini memakai lebar sepur 1.435 mm sebelum diubah menjadi 1.067 mm semasa pendudukan Jepang.

Dahulu stasiun ini masih mempunyai jalur menuju Srandakan hingga Pabrik Gula Sewugalur di Kulonprogo. Namun jalur KA ke Sewugalur dibongkar oleh tentara Jepang untuk membuat jalur KA romusha di Bayah dan sepanjang ruas Muaro-Pekanbaru, sehingga stasiun ini menjadi stasiun terminus untuk jalur Yogyakarta-Bantul.

Namun jalur ini kalah bersaing dengan moda transportasi lain seperti bus dan mobil pribadi, sehingga Perusahaan Jawatan Kereta Api menutup jalur ini pada tahun 1973.

Pada tanggal 20 Juli 1990, Pemerintah Bantul memugar stasiun ini bersamaan dengan peresmian terminal bus Palbapang. Namun bangunan stasiun ini masih ada dan asli. Kondisi stasiun saat ini sangat terawat dan bersih, tidak ada corat-coret di dinding bangunan stasiun. Tidak ada lagi bekas tiang sinyal ataupun tiang telegraf (komunikasi) di sekitar kawasan ini. Semua potongan rel kereta api sudah tidak ada, sedangkan potongan sambungan rel, roda, dan besi tua berbentuk pipa dijadikan monumen kecil di taman pada bagian tengah terminal Palbapang.

Pangeran Paku Wojo Salah Satu Tokoh Dusun Tulung Pundong, Bantul Letak Makam Makam Pangeran Paku Wojo secara administrative terleta...

Pangeran Paku Wojo Salah Satu Tokoh Dusun Tulung Pundong, Bantul



Letak Makam

Makam Pangeran Paku Wojo secara administrative terletak di Dusun Tulung, Kalurahan Srihardono, Kecamatan Pundong, Kabupaten Bantul, Provinsi DIY. Lokasi makam Pangeran Paku Wojo dapat dijangkau melalui Jl. Parangtritis Km 17. Pada kilometer tersebut akan ditemukan pertigaan ke arah timur yang mengarah ke Pasar Pundong. Jarak antara pertigaan tersebut dengan Pasar Pundong kurang lebih 3 kilometer. Lokasi makam Pangeran Paku Wojo berada di sisi utara dari Pasar Pundong ini pada jarak sekitar 400 meter.

Kondisi Fisik

Makam Pangeran Paku Wojo berada di tengah areal persawahan. Untuk menuju lokasi ini relatif sulit karena akses jalan ke lokasi bisa dikatakan memang tidak ada. Pematang sawah yang sebenarnya bisa dijadikan sebagai jalan sering tertutup oleh kerimbunan tanaman tebu yang membuat pengunjung kesulitan untuk menitinya.

Tidak adanya akses atau jalan khusus ke lokasi makam mungkin disebabkan oleh karena makam ini sudah relatif jarang dikunjungi orang. Jurukunci untuk makam ini pun bisa dikatakan tidak ada. Untuk dapat mengetahui tentang latar belakang ceritanya pengunjung harus menemui sesepuh Dusun Tulung. Makam ini juga relatif kurang terawat, lebih-lebih setelah peristiwa gempa Bantul, 27 Mei 2006. Gempa tersebut telah turut merusakkan bangunan pagar dan cungkup bagi makam ini. Nisan dari Pangeran Paku Wojo juga tampak patah dan kepala jiratnya terlepas dari badan nisannya.


Kompleks makam ini berada dalam naungan pohon randu alas yang cukup besar, pohon kamboja, dan cemara. Belukar dan semak juga tampak mengitari kompleks makam ini. Dengan demikian, keberadaannya yang demikian sering menimbulkan perasaan seram.

Kompleks makam Pangeran Paku Wojo memiliki ukuran luas kurang lebih 6 m x 7 m. Sedangkan batu nisan dari Pangeran Paku Wojo sendiri dan istrinya terbuat dari batu andesit dalam bentuk atau wujud yang sederhana. Panjang batu nisan keduanya sekitar 125 Cm, lebar 35 Cm, dan tinggi 50 Cm.

Latar Belakang

Pangeran Paku Wojo sering dikenal juga dengan nama Mbah Bathil. Sumber setempat tidak bisa menerangkan dengan memuaskan mengenai asal-usul Pangeran Paku Wojo. Hanya saja disebutkan bahwa Pangeran Paku Wojo merupakan salah seorang tokoh yang memimpin sebuah kelompok. Kelompok mereka ini hidup di Hutan Mentaok sisi selatan. Meskipun demikian, tidak pernah diketahui pada periode atau tahun berapa pangeran Paku Wojo ini hidup. Sumber setempat menyebutkan bahwa Pangeran Paku Wojo kemungkinan besar hidup ketika Mataram atau Mangir belum berdiri. Kehidupan antarkelompok saat itu sering bergesekan, bersaing, dan berkembang menjadi sebuah peperangan. Demikian pun seperti yang dialami oleh kelompok Pangeran Paku Wojo.


Diceritakan oleh sumber setempat bahwa dalam peperangan antarkelompok tersebut Pangeran Paku Wojo mengalami kekalahan sehingga ia harus melarikan diri. Dalam pelariannya itu Pangeran Paku Wojo pernah merasa terganggu oleh datangnya seorang pengemis yang selalu menguntit dan meminta sesuatu kepadanya. Apa yang dilakukan oleh pengermis tersebut di samping membuatnya risih juga membuat tempat persembunyiannya diketahui oleh musuhnya. Hal ini menyebabkan Pangeran Paku Wojo mengeluarkan kutukan. Isi kutukan itu menyebutkan bahwa pengemis dan keturunannya kelak akan tetap menjalani profesi sebagai pengemis, bukan orang yang mandiri. Artinya, hidupnya hanya menggantungkan belas kasihan kepada orang lain.

Pelarian Pangeran Paku Wojo akhirnya sampai pada sebuah anak Sungai Opak. Anak Sungai Opak tersebut ketika itu sedang kering airnya yangd alam bahasa Jawa disebut sebagai asat. Sungai kering itulah yang kemudian dijadikan sebagai sarana jalan bagi pelarian Pangeran Paku Wojo dan kelompoknya. Berdasarkan peristiwa itu Pangeran Paku Wojo kemudian menamakan daerah itu menjadi Dusun Klisat. Istilah klisat ini berasal dari kali asat ’sungai kering’. Dusun ini sampai sekarang masih dapat ditemukan. Letaknya tidak begitu jauh dari Dusun Tulung, Pundong.


Pangeran Paku Wojo akhirnya naik dari kali asat tersebut menuju ke sebuah dusun yang kala itu penduduknya masih sangat jarang. Ia kemudian mohon ijin untuk tinggal di dusun tersebut. Ketika ia tinggal di dusun tersebut ia merasa ditolong. Baik ditolong soal pemukimannya, finansialnya, maupun keamanannya. Oleh karena persitiwa itu maka Pangeran paku Wojo kemudian menamai dusun tersebut dengan nama Dusun Tulung.

Berkaitan dengan nama Mbah Bathil yang menjadi nama aliasnya, hal ini pun memuati kisah tersendiri. Ceritanya, pada saat Pangeran Paku Wojo ini singgah atau bersembunyi di dusun yang sekarang dengan Dusun Tulung, ia disarakan untuk mbathili ’memotong rambut secara serampangan’ rambutnya. Hal demikian perlu dilakukan agar musuh yang mencarinya tidak mengenalinya lagi. Pangeran Paku Wojo pun mengikuti saran sesepuh dusun setempat. Sejak itu pula ia aman dari kejaran musuh-musuhnya. Berdasarkan peristiwa itu Pangeran Paku Wojo kemudian dikenal juga dengan nama Mbah Bathil.

Broto Karno (90) selaku sesepuh Dusun Tulung menyebutkan bahwa pada masa lalu makam ini relatif banyak diziarahi orang. Kini peziarahan tersebut bisa dikatakan sangat berkurang.


Masjid Darussalam Pucanganom, sebagai salah satu masjid tertua di Bantul, tetap mempertahankan bentuk aslinya. Kemuncak atau mustaka asli ...


Masjid Darussalam Pucanganom, sebagai salah satu masjid tertua di Bantul, tetap mempertahankan bentuk aslinya. Kemuncak atau mustaka asli yang terbuat dari gerabah dan bergaya penggada distilir tetap dilestarikan. Demikian pula dengan jambangan kuno yang berdiameter hampir 2 meter dan kedalamannya 1 meteran pun tetap dilestarikan.

Sisi barat daya-depan kompleks Masjid ”Darussalam” Pucanganom, Sanden, Bantul

Masjid Pucanganom secara administratif terletak di Dusun Pucanganom, Kelurahan Murtigading Kecamatan Sanden, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Lokasi ini dapat dicapai melalui Perempatan Palbapang, Bantul, ke arah barat (arah Kulon Progo) setelah sampai di pertigaan Sapuangin ambil arah ke kiri (selatan). Ikuti jalan ini hingga menemukan Pasar Gumulan. Teruskan perjalanan dari Pasar Gumulan ke selatan hingga melewati Gejlig Pitu, SMA I Sanden, Kantor Kelurahan Murtigading, dan sampai SDN I Sanden. Pada sisi selatan SDN I Sanden ini terdapat pertigaan. Ambil arah ke kanan (barat) hingga menemukan Pondok Pesantren Al Furqon. Lokasi masjid ini berjarak sekitar 400 m di sisi utara PP Al Furqon.

Kompleks Masjid Pucanganom yang kemudian dinamakan Masjid Darussalam ini telah mengalami perbaikan atau perkembangan fisik. Setidaknya tahun 1750 masjid ini dilengkapi pagar dari batu bata. Demikian pula kompleks makamnya. Perbaikan itu dilakukan oleh salah satu keturunan Nyai Pucangsari yang bernama Kertadurga.

Kemuncak/mustaka masjid ini masioh dipertahankan sesuai aslinya

Tahun 1910 atap welit masjid ini diganti dengan genteng. Demikian pula tulangannya diganti dengan kayu baru. Perbaikan itu dilakukan oleh Kyai Wiryadikrama yang juga keturunan dari Nyai Pucangsari. Dalam perjalanan waktu masjid ini terus mendapatkan perawatan dan perbaikan di sana-sini, yang tercatat yakni tahun 1932, 1952, 1954, 1956, 1958, 1969, dan 1993. Perlu diketahui pula bahwa lurah di Kalurahan Murtigading, Sanden, Bantul, secara berturut-turut dijabat oleh keturunan Nyai Pucangsari.

Peletakan batu pertama untuk pemugaran Masjid Darussalam Pucanganom yang pembangunannya selesai tahun 1993 dilakukan oleh GBPH Haji Joyokusumo, pada tanggal 21 Juli 1992. Sementara peresmiannya dilakukan oleh Sultan Hamengku Buwana X pada 22 Februari 1993. Pemugaran itu memperbaiki dan memperluas bangunan masjid. Semula ukuran banguan utama masjid adalah 8,5 m x 8,5 m dan setelah dipugar menjadi 10 m x 10 m. Sementara luas tanah masjid adalah 799 meter persegi. Serambi masjid berukuran 8,5 m x 10 m.

Ketuaan bangunan masjid ini tidak begitu tampak karena telah mengalami beberapa kali renovasi

Masjid Darussalam Pucanganom tetap mempertahankan bentuk aslinya. Kemuncak atau mustaka asli yang terbuat dari gerabah dan bergaya penggada distilir tetap dilestarikan. Demikian pula dengan jambangan kuno yang berdiameter hampir 2 meter dan kedalamannya 1 meteran pun tetap dilestarikan. Jambangan kuno ini sekarang diletakkan di sisi kanan masjid (selatan). Selain dua benda kuno tersebut di kompleks Masjid Darussalam Pucanganom juga terdapat arca Ganesha. Hanya saja arca ini disimpan di bawah jambangan kuno (di dalam tanah).

Masjid Darussalam Pucanganom pernah pula digunakan sebagai maskas Pasukan Hisbullah pada masa perjuangan kemerdekaan khususnya pada masa agresi militer Belanda kedua (1948-1949). Pasukan Hisbullah ini setiap malam bergerilya untuk menyerang pasukan Belanda yang ada di wilayah Bantul atau Kota Yogyakarta. Pada peristiwa ini ada dua orang anggota Pasukan Hisbullah yang gugur, yakni Sukarno dan Ali. Kedua pahlawan ini dimakamkan di Blimbing-Pucanganom.

Masjid Darussalam Pucanganom, merupakan salah satu masjid tertua di Bantul

Nisan Nyai Pucangsari pendiri dusun Pucanganom, Murtigading, Sanden, Bantul

Kyai Pucanganom merupakan suami Nyai Pucangsari. Nyai Pucangsari merupakan salah satu cicit dari Raden Damarwulan atau kelak dikenal juga bernama Prabu Brawijaya (terakhir).

Nyai Pucangsari ketika muda bernama Raden Ayu Kencanasari. RA. Kencanasari pergi dari Keraton Majapahit karena berbagai konflik yang terjadi di sana. Perjalanan panjang Kencanasari pun akhirnya sampai di Pantai Selatan Yogyakarta, tepatnya di Dusun Grogol, Kretek, Bantul. Di Grogol ia bisa bertemu dengan saudara sepupunya yang bernama Syeh Maulana Maghribi yang berasal dari Gresik, Jawa Timur. Syeh Maulana Maghribi sendiri merupakan murid dari Syeh Maulana Malik Ibrahim.

Ruang utama Masjid Darussalam Pucanganom telah diperbarui

Di Grogol inilah Kencanasari beristirahat atau tinggal untuk sementara waktu. Di Grogol pula Kencanasari diberi pelajaran mengenai agama Islam oleh Syeh Maulana Maghribi. Sekalipun demikian Kencanasari tetap belum mau memeluk agama Islam. Kepada saudara sepupunya itu Kencanasari menyatakan bahwa ia ingin mendirikan pemukiman (rumah) di sisi barat Sungai Opak. Syeh Maulana Maghribi pun mengikhlaskan perempuan itu untuk melanjutkan perjalanan. Bahkan Syeh Maulana Maghribi menyuruh murid-muridnya untuk mengiringi perjalanan Kencanasari serta diminta pula untuk membantu babat alas ‘membuka hutan’ dan mendirikan rumah di sisi barat Sungai Opak.

Kencasari pun akhirnya berangkat meninggalkan Grogol dan mendirikan sebuah dusun di dekat muara Sungai Opak. Dusun tersebut dikenal dengan nama Dusun Sogan. Pendirian dusun tersebut dilakukan dengan bantuan murid-murid Syeh Maulana Maghribi. Pemilihan lokasi untuk pendirian dusun tersebut menurut sumber setempat didasarkan pada jatuhnya mata panah yang diluncurkan oleh Syeh Maulana Maghribi dari atas bukit di Dusun Grogol.

Masjid Darussalam Pucanganom dilihat dari sisi selatan

Dusun Sogan atau Soge yan baru saja didirikan oleh Raden Ayu Pucangsari ternyata merupakan wilayah yang selalu tergenang banjir, terutama saat musim penghujan. Oleh karena itu, RA. Pucangsari berniat membuka dusun baru. Ia membuat dusun baru dengan bantuan orang-orang sekitar. Cara membuka dusun dengan membakar hutan yang dalam bahasa Jawa disebut dengan melagar (membakar). Berdasarkan sebutan itu kemudian lahirlah Dusun Klagaran.

Sisa pembakaran hutan (abu dan arang) yang oleh orang Jawa disebut sebagai tegesan berjumlah sangat banyak. Berdasarkan hal itu kemudian lahir pula Dusun Tegesan. Selain itu, ternyata sisa api dari pembakaran hutan itu merembet kemana-mana. Orang-orang pun kebingunan untuk memadamkannya. Akhirnya dengan bergotong royong mereka menyirami api tersebut dengan air. Aktvitas menyirami api dengan air sering disebut sebagai menggunturi api. Berdasarkan hal ini kemudian lahir pula Dusun Guntur Geni.

Setelah peristiwa itu, Kencanasari bermukim pada sebuah dusun tidak jauh dari dusun-dusun tersebut. Di tempat pemukiman baru ini Kencanasari kedatangan seorang pengembara yang bernama Kyai Pucanganom. Keduanya kemudian menikah. Setelah menikah Kyai Pucanganom juga dikenal dengan nama Kyai Pucangsari. Sedangkan dusun tempat mereka berdua bermukim kemudian dikenal dengan nama Dusun Pucanganom.

Suatu ketika Kyai Pucanganom meninggalkan dusun untuk mengembara. Ketika ditinggalkan Nyai Pucanganom (RA. Pucangsari) dalam kondisi hamil sekitar enam bulan. Kepergian Kyai Pucanganom yang cukup lama membuat Nyai Pucangsari mencarinya. Ketika ketemu Kyai Pucanganom tidak mau kembali, dan bahkan ia telah menikahi wanita lain di daerah Bagelen. Di sana pula Kyai Pucanganom membuka dusun baru yang juga dinamakan Dusun Pucanganom. Kepada Nyai Pucangsari, Kyai Pucanganom memberikan wasiat nama bagi calon bayi yang dikandung Nyai Pucangsari. Nama yang diwasiatkan adalah Murtisari. Oleh karena itu putra dari Kyai Pucanganom-Nyai Pucangsari ini dinamakan Murtisari.

Setelah beberapa tahun hidup bersama Murtisari, Nyai Pucangsari kedatangan saudaranya yang bernama Syeh Jambikarang. Syeh Jambikarang pun telah meninggalkan Majapahit dan cukup lama mengembara. Akan tetapi setelah sampai di Pucanganom dan bertemu dengan saudaranya itu Syeh Jambikarang kemudian menyatakan akan menetap di Pucanganom. Di tempat ini ia menyiarkan agama Islam.

Saat Murtisari berusia 10 tahun wilayah Pucanganom kedatangan guru agama Islam lain yang bernama Syeh Mukharom, yang berasal dari Kulon Progo. Bertepatan dengan usia 10 tahun Murtisari, orang yang bertahta di Mataram waktu itu adalah Sultan Agung Hanyakrakusuma. Pada masa pemerintahannya itulah Sultan Agung Hanyakrakusuma meminta pada punggawanya untuk secara diam-diam meletakkan sebuah mustaka masjid dan sebuah jambangan besar di salah satu sudut Dusun Pucanganom. Orang pun heboh demi mendapatkan kedua benda yang mereka anggap sebagai mustaka dan jambangan tiban (ada begitu saja).

Mustaka dan jambangan itu akhirnya dipindahkan ke pekarangan rumah Nyai Pucangsari. Adanya mustaka dan jambangan tiban itu kemudian ditanggapi oleh Nyai Pucangsari dan seluruh warga dusun tersebut sebagai sasmita (pertanda) bahwa warga setempat diminta untuk membuat sebuah masjid.

Masjid pun akhirnya dibangun dengan cara gotong royong. Mustaka pun diletakkan di atas kemuncak masjid. Sementara jambangan digunakan untuk menampung air yang digunakan untuk berwudu. Lokasi pendirian masjid berada di sisi timur-utara rumah Nyai Pucangsari. Ditengarai masjid tersebut didirikan tahun 1630.

Gapura utama menuju Makam Sentana, makam Nyai Pucangsari

Akhirnya Kyai Murtisari pun menikah dan memiliki anak laki-laki yang kemudian diberi nama Murtidlajah. Ia kemudian diserahi tugas untuk membuat kuburan di belakang masjid di Pucanganom. Pada intinya kuburan di belakang masjid tersebut dibagi dalam dua kapling. Satu kapling dikhususkan untuk menguburkan Syeh Jambikarang, Syeh Mucharom dan penduduk setempat. Satu bagian lainnya digunakan untuk menguburkan Nyai Pucangsari dan keturunannya, yang kemudian dinamakan Makam Sentana.

Kyai Murtisari juga diminta untuk mencari ayahnya di daerah Bagelen. Akan tetapi ayahnya ternyata telah meninggal di wilayah Bagelen dan dikuburkan di Dusun Pucanganom, yakni dusun yang dinamakan sesuai dengan nama Kyai Pucanganom. Ternyata pula Kyai Pucanganom bukan hanya mendirikan Dusun Pucanganom di Murtigading, Bantul. Akan tetapi juga Dusun Pucanganom di Bagelen, Purworejo, Dusun Pucanganom di Ngijon, Sleman, dan di Panggang, Gunung Kidul.

Kompleks Masjid Pucanganom yang kemudian dinamakan Masjid Darussalam ini telah mengalami perbaikan atau perkembangan fisik. Setidaknya tahun 1750 masjid ini dilengkapi pagar dari batu bata. Demikian pula kompleks makamnya. Pemugaran ini dilakukan oleh salah satu keturunan Nyai Pucangsari yang bernama Kertadurga.

Tahun 1910 atap welit (rumbia) masjid ini diganti dengan genteng. Demikian pula tulangannya diganti dengan kayu baru. Perbaikan ini dilakukan oleh Kyai Wiryadikrama yang juga keturunan dari Nyai Pucangsari. Demikian masjid ini terus mendapatkan perawatan dan perbaikan di sana-sini, yang terjadi pada tahun 1932, 1952, 1954, 1956, 1958, 1969, dan 1993. Perlu diketahui pula bahwa lurah di Kelurahan Murtigading, Sanden, Bantul, secara berturut-turut dijabat oleh keturunan Nyai Pucangsari.

Gapura utama menuju makam Syeh Jambikarang dan Syeh Mucharom di belakang masjid

Peletakan batu pertama untuk pemugaran Masjid Darussalam yang terbaru dilakukan oleh GBPH Haji Joyokusumo, pada 21 Juli 1992 serta pembangunannya selasai pada tahun 1993. Sementara peresmiannya dilakukan oleh Sultan Hamengku Buwana X pada tanggal 22 Februari 1993. Pemugaran itu sendiri berhasil memperbaiki dan memperluas bangunan masjid. Semula ukuran banguan utama masjid adalah 8,5 m x 8,5 m dan setelah dipugar menjadi 10 m x 10 m. Sementara luas tanah masjid adalah 799 meter persegi. Serambi masjid berukuran 8,5 m x 10 m.

Masjid Darussalam Pucanganom tetap mempertahankan bentuk aslinya. Kemuncak atau mustaka asli yang terbuat dari gerabah dan bergaya penggada distilir pun tetap dilestarikan. Demikian pula dengan jambangan kuno yang berdiameter hampir 2 m dan kedalamannya 1 m pun tetap dilestarikan. Jambangan kuno ini sekarang diletakkan di sisi kanan masjid (selatan). Kecuali dua benda kuno tersebut di kompleks Masjid Darussalam Pucanganom juga terdapat benda kuno lain yakni arca Ganesha. Hanya saja arca Ganesha disimpan di bawah jambangan kuno (di dalam tanah).

Masjid Darussalam Pucanganom pernah pula digunakan sebagai markas Pasukan Hisbullah, pada masa perjuangan kemerdekaan, khususnya pada masa agresi militer Belanda kedua (1948-1949). Pasukan Hisbullah ini setiap malam bergerilya untuk menyerang pasukan Belanda yang ada di wilayah Bantul atau Kota Yogyakarta. Pada peristiwa ini ada dua orang anggota Hisbullah yang gugur, yakni Sukarno dan Ali. Kedua pahlawan ini dimakamkan di Blimbing-Pucanganom. Masjid Darussalam Pucanganom yang juga dilengkapi dengan lapangan badminton dan perpustakaan ini hingga sekarang sarat dengan kegiatan keagamaan maupun sosial. 

Jambangan kuno tetap dilestarikan

Sumber : Sartono, Tembi.Net

Makam Nyai Kenti Dusun Bongoskenti berada di wilayah Kelurahan Murtigading, Kecamatan Sanden, Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istim...

Makam Nyai Kenti


Dusun Bongoskenti berada di wilayah Kelurahan Murtigading, Kecamatan Sanden, Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Pedukuhan Bongoskenti ini merupakan gabungan dusun terdiri dari : Dusun Bongoskenti, Dusun Sanden, Dusun Pucanganom. 

Konon cikal bakal pedukuhan Bongoskenti berasal dari nama Kyai Kenti, Kyai Sandi cikal bakal dusun Sanden, Kyai Pucang cikal bakal dusun Pucanganom.

Sejarah Pedukuhan Bongoskenti dan Sanden

Makam Kyai Kenti berada di pedukuhan No. 16 Bongoskenti.
Makam Kyai Sandi juga berada di pedukuhan No. 16 Bongoskenti
Sedangkan makam Kyai Pucang berada di pedukuhan no. 14 Pucanganom.

Kyai Sandi

Kyai Sandi merupakan keturunan dari Kyai Lemah Telasih yang bermukim di Panggang, Gunung Kidul. Tidak jelas, siapa sesungguhnya Kyai Lemah Telasih tersebut. Namun ada dugaan yang menyatakan bahwa dia adalah salah satu keturunan Prabu Brawijaya.

Suatu ketika Kyai Lemah Telasih meminta kepada Kyai Sandi dan istrinya agar meninggalkan bumi Lemah Telasih di Panggang untuk mencari atau membuka pemukiman baru yang dapat memberikan kesejahteraan bagi hidupnya dan keturunannya kelak. Kyai Sandi dan istrinya setuju.

Kyai Sandi kemudian melepaskan anak panah. Anak panah jatuh di dekat Parangtritis. Tempat jatuhnya anak panah tersebut kemudian dinamakan Dusun Soge Sanden. Di situlah Kyai Sandi mula-mula bermukim. Ternyata Soge Sanden sering dilanda banjir. Untuk itu Kyai Sandi dan istrinya berpindah pemukiman ke sisi selatan Dusun Mangir. Tempat itulah yang kemudian dinamakan Dusun Sanden.

Versi lain menyebutkan bahwa pasca Geger Kartasura (Geger Pecinan) ada tiga orang yang berkelana. Tiga orang tersebut bernama Kyai Cobau, Kyai Pucang, dan Kyai Codrono (Secodrono). Dua orang pertama (Kyai Cobau dan Kyai Pucang) ini mencari ayahnya yang pergi dari Kartasura. Sedangkan Kyai Codrono merupakan abdi (pamomong) dari keduanya. Mereka mencari orang tuanya yang pergi dari Kartasura dengan cara menyamar. Oleh karena itu orang tua mereka itu kemudian dikenal dengan nama Kyai Sandi. Artinya, nama sesungguhnya dari tokoh ini sejak kepergiannya memang di-sandi-kan (disamarkan).

Berawal dari kisah itulah maka dusun tempat Kyai Sandi tinggal dan meninggal kemudian dinamakan Dusun Sanden. Dalam perkembangannya nama Sanden tidak saja digunakan untuk nama dusun, namun juga nama nama kecamatan di wilayah Kabupaten Bantul.

Kurang lebih berjarak 5 km ke arah selatan dari pusat kota Bantul, Yogyakarta. Terletaklah sebuah desa kecil nan permai yang sangat t...



Kurang lebih berjarak 5 km ke arah selatan dari pusat kota Bantul, Yogyakarta. Terletaklah sebuah desa kecil nan permai yang sangat terkenal di kalangan penduduk asli Kabupaten Bantul. Persawahan yang luas serta barisan cemara hijau yang rapi, akan mengiringi langkah kita memasuki desa cemara itu. Ganjuran, itulah nama sebuah desa yang mempunyai keunikan tersendiri menurut kisah bagaimana asal mula terjadinya nama desa tersebut. Secara administratif, Desa Ganjuran terletak di Kelurahan Sumbermulyo, Bambanglipuro, Bantul.

Konon Desa Ganjuran ini merupakan pusat pemerintahan kecamatan bambanglipuro lama. Menurut berbagai sumber baik lisan maupun tulisan, nama Desa Ganjuran itu sendiri bermula dari kisah percintaan antara ki Ageng Mangir Wonoboyo dan Roro Rembayun. Kedua tokoh tersebut memang sudah tak asing lagi terdengar di telinga rakyat Bantul. Terus, bagaimana kisah selengkapnya? kita simak di bawah ini.
Setelah Danang Sutawijaya memperoleh hadiah tanah Mataram dari Joko Tingkir, dia ingin mendirikan sebuah kerajaan kasultanan yang merdeka dari kekuasaan Kerajaan Pajang. strategi awal yang akan dilakukannya adalah dengan membuka Alas Mentaok sebagi pusat pemerintahan Mataram.

Ternyata tidak semudah membalik telapak tangan untuk membuka Alas Mentaok, karena alas tersebut ditunggui oleh jin yang bernama Jalumampang alias Jathamamrang yang terkenal sangat sakti mandraguna. Merasa kesulitan mengalahkan Jin Jalumampang, Sutawijaya lalu bertapa di segara kidul (laut selatan). Dalam tapanya itu, Sutawijaya didatangi oleh Nyai Rara Kidul si Ratu laut selatan yang terpikat oleh ketampanan Sutawijaya. Kemudian, sutawijaya pun tidak menyia-nyiakan kesempatan yang sangat bagus ini. Dia minta tolong kepada Nyi Roro Kidul untuk membantu mengalahkan Jin Jalumampang. Dan ternyata Nyi Rara Kidul pun mau membantu Sutawijaya dalam menghadapi Jin Jalumampang, akan tetapi dengan satu syarat bahwa Sutawijaya beserta keturunannya nanti harus menjadi suami dari Nyi Roro Kidul. Akhirnya, persyaratan itupun disetujui oleh Sutawijaya.

Dengan bantuan Nyi Roro Kidul tersebut, Sutawijaya akhirnya dapat mengalahkan Jin Jalumampang. Dan konon sejak saat itu, Jin Jalumampang pindah ke lereng Gunung Merapi, yang sekarang terkenal dengan sebutan kaliurang.

Setelah akhirnya mampu mengalahkan Jin Jalumampang, Sutawijaya masih bingung dalam menentukan di mana letak pusat pemerintahan Kerajaan Mataram. Dalam kebimbangannya itu, Sutawijaya menyepi di tengah Alas Mentaok. Tempat itu sangat sepi, sehingga dapat menenangkan suasana hatinya yang sedang gundah menjadi tenang dan damai. Sehingga tempat itu diberi nama Lipuro, yang berasal dari kata lipur (yang berarti hibur).

Karena suasana alamnya yang begitu menenangkan, Sutawijaya sempat bepikir ingin menjadikan tempat itu sebagai pusat Kerajaan Mataram. Akan tetapi, niat itu diurungkannya, karena setelah dipikir-pikir lagi tempat itu tidak menguntungkan. Selain tidak tepat di tengah-tengah wilayah kerajaan, juga jauh dari sumber perairan sungai. dan akhirnya, Sutawijaya memutuskan untuk mendirikan pusat kerajaannya di sebelah barat Sungai Opak, yang sekarang terkenal dengan nama Kota Gedhe. Dan semenjak saat itu, Sutawijaya bergelar sebagai Panembahan Senopati.

Setelah Kerajaan Mataram berkembang pesat, banyak pemberontakan yang muncul ingin menumbangkan kekuasaan Senopati. Salah satu pemberontakan yang sulit dikalahkan adalah pemberontakan ki Ageng Mangir Wonoboyo. Untuk mengalahkan ki Ageng Mangir, Panembahan Senopati menggunakan putrinya yang bernama Rara Pembayun untuk merayu dan membunuh ki Ageng Mangir.

Akan tetapi, Rara Pembayan sendiri telah terlanjur jatuh cinta kepada ki Ageng Mangir, namun cinta mereka tidak direstui oleh Panembahan Senopati, karena Panembahan Senopati masih menyimpan dendam kepada ki Ageng Mangir. Dan akhirnya mereka berdua diasingkan dari Kerajaan Mataram. Dalam pengasingan itu, mereka hidup di sebuah desa yang dulu digunakan untuk menyepi oleh Panembahan Senopati yang bernama Desa Lipuro.

Di situlah mereka bisa memadu cinta, dan kisah cinta antara ki Ageng Mangir dan Rara Pembayun inilah yang mengilhami penciptaan tembang kala ganjur, yang berarti tali pengikat dasar manusia. Nah, dari nama tembang tersebutlah, desa yang dulu bernama Lipuro itu, kini berubah nama menjadi Desa Ganjuran.

Lalu, mungkin ada yang bertanya-tanya, mengapa sekarang nama Lipuro masih tetap digunakan sebagai nama Kecamatan Bambanglipuro. Kita tahu, bahwa kata “bambang” dalam Bahasa Jawa berarti muda. Jadi, arti bambanglipuro adalah “lipuro muda” atau “lipuro baru”, sebagai ganti Desa Lipuro yang dulu sempat hilang karena diganti dengan nama Ganjuran.

Itulah kisah cerita terjadinya nama Desa Ganjuran dan Kecamatan Bambanglipuro. Memang, cerita rakyat ini telah tak populer lagi di kalangan masyarakat. Akan tetapi, cerita-cerita seperti inilah yang seharusnya kita jaga. Agar jika anak cucu kita kelak bertanya tentang nama suatu tempat, kita tidak ragu lagi untuk menceritakannya. Hidup cerita rakyat!

Berawal dari Kisah Seorang Ki Ageng Mangir. Ki Ageng Mangir, bukan nama asing dalam sejarah Mataram. Di mata Mataram, Mangir dikenal ...



Berawal dari Kisah Seorang Ki Ageng Mangir. Ki Ageng Mangir, bukan nama asing dalam sejarah Mataram. Di mata Mataram, Mangir dikenal sebagai tokoh pemberontak karena dituduh ingin melepaskan diri dari Mataram. Dia mati di tangan Panembahan Senopati yang sebenarnya merupakan mertuanya sendiri. Panembahan Senopati mengatur skenario dengan menjebak Ki Ageng Mangir dengan mengirimkan Pembayun, putrinya untuk memikat Mangir dengan cara menyamar sebagai penari tayub.
Strateginya berhasil dan kemudian dia meminta Ki Ageng Mangir untuk mau datang menghadap ayahandanya. Namun saat menghadap dan sujud di depan Panembahan Senopati, kepalanya dibenturkan ke batu gilang tempat duduk sang raja.
Siapa sebenarnya Ki Ageng Mangir tidak ada catatan yang jelas. Dalam Babad Mangir disebutkan setidaknya ada tiga tokoh yang menggunakan nama Mangir. Trah Mangir ini dalam babad diceritakan berasal dari Brawijaya V yang berputra Radyan Alembumisani. Alembumisani ini melarikan diri dari Majapahit ke arah barat bersama istrinya. Kemudian dia mempunyai seorang putra yang diberi nama Radyan Wanabaya. Radyan Alembumisani meninggal di daerah Gunungkidul. Radyan Wanabaya inilah yang kemudian tinggal di Mangir sehingga ia terkenal dengan nama Ki Ageng Mangir Wanabaya (Mangir I).
Ki Ageng Mangir Wanabaya I menurunkan Ki Ageng Mangir Wanabaya II. Mangir I juga mempunyai istri (selir), putri dari Demang Jalegong. Dalam cerita tutur dikenal Rara Jalegong melahirkan anak yang berupa naga yang diber nama Ki Bagus Baruklinting ini mempunyai kesaktian yang luar biasa pada lidahnya sehingga lidahnya dibuat menjadi sebilah mata tombak oleh ayahnya sendiri dan diberi nama Kiai Baru.

Dalam cerita rakyat dipercaya bahwa Ki Bagus Baruklinting adalah naga yang berubah wujud menjadi tombak pusaka (Kiai Baruklinting). Tombak Kiai Baruklinting senantiasa disanding oleh Ki Ageng Mangir. Namun senjata ini tidak dibawa menghadap Panembahan Senopati karena syarat menghadap raja semua senjata harus dilepas.

Dusun Mangir sekarang terbagi atas tiga wilayah, yakni Dusun Mangir Lor, Mangir Tengah dan Mangir Kidul. Lokasi ini terletak kira-kira 20 kilometer dari Kota Jogja. Secara administratif dusun ini masuk dalam wilayah Kalurahan Sendangsari, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul, Peninggalan yang masih ada di daerah ini antara lain batu persegi dengan ukuran 1×1 meter yang dipercaya sebagai tempat duduk Ki Ageng Mangir, arca lembu (kendaraan Dewa Siwa) dan beberapa fragmen arca.

Selain itu ada beberapa peninggalan lain yang cukup tersebar di Dusun Mangir, yakni berupa onggokan batu bata dalam ukuran lebih besar dari rata-rata ukuran batu bata di zaman sekarang, onggokan batu bata yang hampir tersebar di seluruh Dusun Mangir ini diperkirakan merupakan sisa-sisa bangunan keraton Ki Ageng Mangir di masa lalu. (ZUH/Harian Jogja)

Cerita mengenai saat-saat boyongan dari Mangir ke Mataram merupakan sebuah kisah yang dramatis, hanya sayang tidak banyak masyarakat yang mengetahuinya. Kisah ini dapat dibaca dalam Babad Mangir. Dalam adegan ini pulalah kata BANTUL berasal, karena banyaknya EMBAN yang membawa uba rampe serta srah-srahan dengan cara dipikul yang MENTUL-MENTUL. Itulah asal dari kata BANTUL, yang kini menjadi salah satu kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta

Menurut Sejarah yang ditulis di Wikipedia
Pemerintah Hindia Belanda dan sultan Yogyakarta pada tanggal 26 dan 31 Maret 1831 mengadakan kontrak kerja sama tentang pembagian wilayah administratif baru dalam kasultanan disertai penetapan jabatan kepala wilayahnya. Saat itu Kasultanan Yogyakarta dibagi menjadi tiga kabupaten yaitu Bantulkarang untuk kawasan selatan, Denggung untuk kawasan utara, dan Kalasan untuk kawasan timur. Menindaklanjuti pembagian wilayah baru Kasultanan Yogyakarta, tanggal 20 Juli 1831 atau Rabu Kliwon 10 Sapar tahun Dal 1759 (Jawa) secara resmi ditetapkan pembentukan Kabupaten Bantul yang sebelumnya dikenal bernama Bantulkarang tersebut di atas. Seorang nayaka Kasultanan Yogyakarta bernama Raden Tumenggung Mangun Negoro kemudian dipercaya Sri Sultan Hamengkubuwono V untuk memangku jabatan sebagai bupati Bantul.

Pada masa pendudukan Jepang, pemerintahan berdasar pada Usamu Seirei nomor 13 sedangkan ‘stadsgemente ordonantie’ dihapus. Kabupaten memiliki hak mengelola rumah tangga sendiri (otonom). Kemudian setelah kemerdekaan, pemerintahan ditangani oleh Komite Nasional Daerah untuk melaksanakan UU No 1 tahun 1945. Akan tetapi di Yogyakarta dan Surakarta undang-undang tersebut tidak diberlakukan hingga dikeluarkannya UU Pokok Pemerintah Daerah No 22 tahun 1948 dan selanjutnya mengacu UU Nomor 15 tahun 1950 yang berisi tentang pembentukan Pemerintahan Daerah Otonom di seluruh Indonesia.